Masyarakat adalah Orang-orang yang: Pengertian, Fungsi, dan Peran dalam Kehidupan Sosial

Masyarakat adalah sekumpulan individu-individu yang hidup berdampingan atau bersama. Kata masyarakat sendiri berasal dari bahasa Arab yakni “syaraka” yang berarti ikut serta atau berpartisipasi. Dalam artian sempit, masyarakat dapat didefinisikan sebagai sekelompok individu yang dibatasi oleh golongan, bangsa, teritorial, dan lainnya. Sedangkan dalam artian luas, masyarakat adalah keseluruhan hubungan hidup bersama tanpa dengan dibatasi lingkungan, bangsa dan sebagainya.

Dalam konteks sosial, masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan bersama. Masyarakat tidak hanya terdiri dari individu-individu yang hidup di suatu wilayah tertentu, tetapi juga melibatkan interaksi sosial, norma, nilai, dan kebudayaan yang menjadi dasar bagi kehidupan bersama. Setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memperkuat ikatan sosial dan memastikan keberlangsungan kehidupan yang harmonis.

Jasa Penerbitan Buku dan ISBN

Pengertian masyarakat menurut para ahli seperti Emile Durkheim, Karl Marx, M.J. Herkovits, J.L Gillin dan J.P. Gillin, Max Weber, Selo Soemardjan, dan Paul B. Horton menunjukkan bahwa masyarakat merupakan struktur sosial yang kompleks yang terbentuk dari interaksi antara individu-individu yang saling bergantung satu sama lain. Ciri-ciri masyarakat termasuk adanya sistem peraturan, komunikasi, kebudayaan, dan kesadaran akan kesatuan.

Fungsi masyarakat dalam kehidupan sosial mencakup fungsi pemeliharaan, pencapaian tujuan, dan interaksi. Masyarakat berperan dalam mempertahankan prinsip-prinsip sosial, menciptakan sistem sosial yang stabil, serta mengatur hubungan antar individu. Selain itu, masyarakat juga bertanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan kehidupan sosial melalui partisipasi aktif dalam pembangunan, pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya.

Peran masyarakat dalam pembangunan bangsa sangat penting. Partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, dan keagamaan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan partisipasi yang aktif, masyarakat dapat membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Selain itu, masyarakat juga berperan dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keindahan lingkungan. Keberadaan masyarakat yang sadar akan tanggung jawab sosial dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua anggota masyarakat. Melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan sosial, masyarakat dapat membangun solidaritas dan kebersamaan yang kuat.

Dalam konteks globalisasi, partisipasi masyarakat semakin penting karena masyarakat menjadi bagian dari proses pembangunan yang lebih inklusif dan transparan. Dengan partisipasi yang aktif, masyarakat dapat memberikan masukan, kritik, dan saran yang konstruktif dalam pengambilan keputusan politik, ekonomi, dan sosial. Hal ini dapat meningkatkan akuntabilitas pemerintah dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pemerintah perlu memperluas ruang partisipasi publik, melibatkan masyarakat dalam agenda pembangunan, dan menciptakan transparansi kebijakan pembangunan. Dengan langkah-langkah ini, masyarakat dapat merasa lebih dekat dengan pemerintah dan terlibat secara aktif dalam proses pembangunan yang berkelanjutan.

Pengertian Masyarakat

Masyarakat dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan memiliki hubungan sosial, budaya, serta norma yang sama. Dalam artian sempit, masyarakat biasanya merujuk pada kelompok manusia yang tinggal di suatu daerah dan memiliki ikatan kebersamaan. Sementara itu, dalam artian luas, masyarakat mencakup seluruh hubungan hidup bersama tanpa batasan lingkungan, bangsa, atau negara.

Menurut para ahli, masyarakat memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain. Antara lain:

  • Sekumpulan manusia yang hidup secara bersama, minimal terdiri dari dua orang.
  • Saling membaur dan bergaul dalam waktu yang lama.
  • Berkumpulnya manusia tersebut akan menghasilkan manusia baru.
  • Terdapat sistem peraturan yang mengatur hubungan antar manusia.
  • Terdapat sistem komunikasi di dalamnya.
  • Masing-masingnya menyadari bahwa mereka adalah satu kesatuan.
  • Sistem kebersamaan yang ada menimbulkan kebudayaan.

Selain itu, Marrion Levy dan Talcon Parsons menambahkan ciri-ciri lain sebuah kumpulan dapat dikatakan masyarakat. Ciri-ciri tersebut adalah:

  • Memiliki kemampuan bertahan yang melebihi masa hidup seorang anggotanya.
  • Kemunculan anggota masyarakat lainnya adalah lewat reproduksi atau kelahiran.
  • Terdapat sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
  • Memiliki kesetiaan terhadap suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama.
  • Melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.

Fungsi Masyarakat

Keberadaan masyarakat secara umum menjadi kekuatan bagi sebuah negara. Oleh karena itu, fungsi-fungsi masyarakat antara lain sebagai berikut:

  1. Fungsi Pemeliharaan: Masyarakat memiliki peran dalam mempertahankan prinsip-prinsip tertinggi milik masyarakat itu sendiri serta masyarakat selalu menyiapkan dasar-dasar untuk bertingkah laku menuju kenyataan yang lebih tinggi.
  2. Fungsi Mencapai Tujuan: Dalam mencapai tujuan, tentunya diperlukan penyusunan suatu skala prioritas. Oleh karena itu, masyarakat berperan di dalamnya dan turut ikut serta dalam menciptakan sistem sosial. Fungsi ini pun mengatur hubungan hubungan antara masyarakat dan substansi kepribadian.
  3. Fungsi Interaksi: Fungsi interaksi berarti masyarakat merupakan koordinasi yang dibutuhkan oleh unit-unit menjadi bagian dari sebuah sistem sosial. Sistem sosial tersebut pun memiliki keterkaitan dengan unit yang berkontribusi terhadap organisasi dan fungsi-fungsinya secara keseluruhan.

Peran Masyarakat dalam Pembangunan Bangsa

Peran masyarakat dalam pembangunan bangsa sangat penting. Partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, dan keagamaan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan partisipasi yang aktif, masyarakat dapat membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Peran di Bidang Pendidikan

Pendidikan adalah permasalahan besar yang menyangkut nasib dan masa depan bangsa dan negara. Karena itu, tuntutan reformasi politik, ekonomi, sosial, hak azasi manusia, sistem pemerintahan dan agraria tidak akan membuahkan hasil yang baik tanpa reformasi sistem pendidikan. Krisis multidimensi yang melanda negara dan bangsa Indonesia dewasa ini, tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi, sosial dan politik, melainkan juga oleh krisis pada sistem pendidikan nasional.

Upaya pemerintah memberikan bantuan darurat dalam bentuk materi baik melalui program “jaring pengaman sosial” maupun melalui proyek “Padat Karya” ternyata belum mampu memberdayakan masyarakat miskin secara maksimal. Tentu saja masyarakat lapisan bawah sangat memerlukan bantuan semacam ini. Akan tetapi, fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya tersebut masih sarat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bantuan yang seharusnya menjadi porsi dan hak masyarakat lapisan bawah justru sebaliknya kadangkala dinikmati mereka yang tidak berhak.

Pola partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan seharusnya memang bukan pola yang bersifat top-down intervention yang terkadang mengandung nuansa kurang menjunjung tinggi aspirasi dan potensi masyarakat untuk melakukan kegiatan swadaya. Akan tetapi yang relatif lebih sesuai dengan masyarakat lapisan bawah terutama yang tinggal di desa adalah pola pemberdayaan yang sifatnya bottom-up intervention yang di dalamnya ada nuansa penghargaan dan pengakuan bahwa masyarakat lapisan bawah memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhannya, memecahkan permasalahannya, serta mampu melakukan usaha-usaha pendidikan dengan prinsip swadaya dan kebersamaan.

Peran di Bidang Ekonomi

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah petani dan buruh. Ironisnya, sejumlah besar petani kita, bekerja dan hidup di atas lahan yang bukan milik mereka sendiri. Mereka yang merasa “memiliki” lahan pun kadangkala tanpa hak kepemilikan yang resmi. Legalisasi serta sertifikasi tanah yang ada baru mencakup sebagian kecil dari lahan yang diolah para petani. Di tengah kondisi itu, pemerintah belum mengupayakan perbaikan maksimal nasib para petani. Wajarlah ketika akhirnya di Jawa Tengah para petani yang kecewa kepada pemerintah membakar gabah yang merupakan hasil panen dari kerja keras dan banting tulang mereka selama ini.

Sedangkan nasib para buruh di Indonesia, ternyata tidak begitu jauh dari para petani. Karena umumnya para buruh kita berangkat dari latar belakang pendidikan yang rendah, maka mereka cenderung tidak punya pilihan selain hanya menjadi buruh selamanya. Artinya, hampir bisa dikatakan ketika usia mereka masih belia dan masuk ke sektor ini, hingga kemudian mereka menjadi tua, dalam prakteknya mereka mengalami kesulitan untuk bisa beralih ke profesi lain yang lebih baik. Terkadang para buruh ini pula yang pada akhirnya justeru melahirkan buruh-buruh generasi selanjutnya yang akan menggantikan mereka. Lingkaran kemiskinan yang terjadi di kalangan petani dan buruh ternyata menyebabkan rentannya kehidupan ekonomi mereka. Kondisi ini pula pada perkembangan selanjutnya berimplikasi pada perekonomian sebagian besar penduduk Indonesia.

Di tengah-tengah kondisi yang terjadi tersebut, ternyata juga, terjadi pula ledakan urbanisasi, kekumuhan dan ekspansi sektor informal yang muncul sebagai bagian kompleksitas problema kehidupan masyarakat. Di saat yang sama, seringkali kebijakan yang dilakukan pemerintah difokuskan justeru pada pembangunan sektor formal semata. Pada kenyataannya, fenomena sektor informal haruslah kita lihat sebagai bagian dari ekspansi ekonomi yang lebih banyak memberi harapan daripada permasalahan. Belajar dari pengalaman di Barat, pemerintah di sana seringkali memberikan wadah formal yang sesuai untuk masyarakat yang bergerak di sektor informal tersebut.

Peran di Bidang Politik

Pada dataran konseptual, banyak pihak yang menyangka bahwa politik pada dasarnya adalah hal yang hanya berurusan dengan kekuasaan. Padahal secara substansial, politik sebenarnya menyangkut juga kehidupan manusia secara luas. Makanya dalam kehidupan praktis, kita menjumpai istilah politik ekonomi, politik pendidikan serta istilah politik lain yang dihubungkan dengan persoalan yang terjadi.

Namun begitu, dalam konteks pembicaraan politik saat ini, kita akan memfokuskan pada dua hal pembahasan. Pertama, politik yang kita maknai sebagai wahana (arena) perjuangan tempat elemen dalam masyarakat bersaing mendapat porsi dalam kekuasaan yang ada dalam bentuk institusi legislatif dan eksekutif yang ada di berbagai tingkatan. Kedua, ketika masalah pertama tadi telah dilampaui, maka keadaannya menjadi bergeser ke dalam manajemen kekuasaan tersebut. Secara substansi harusnya kekuasaan mampu memberikan jawaban kepada publik, akan diarahkan kemana kekuasaan yang telah diraih. Secara ideal, siapapun yang pada akhirnya berkuasa secara syah sekaligus secara legal formal aturan demokrasi bisa terpenuhi harusnya mengarahkan kekuasaan yang ada pada pencapaian sebesar-besarnya bagi pengurusan kepentingan masyarakat. Secara spsifik berarti memperbesar legitimasi dan fokus awal (yang ada pada kelompok atau elemen pendukung awal; bisa berupa satu partai atau gabungan) untuk sanggup melintasi tujuan bersama yang lebih baik, yakni menuju masyarakat berkualitas yang dalam kehidupannya tercipta keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Masyarakat yang dalam hidupnya pula tercipta rasa aman, damai sentausa, tanpa takut pada tekanan atau intimidasi pihak lain.

Untuk mewujudkan hal yang seperti di atas, pada dasarnya di masyarakat sendiri sebenarnya telah terbangun sendi-sendi kehidupan yang mengarah ke sana. Di tengah masyarakat pula, kita saksikan ada banyak tokoh masyarakat, baik yang berlatar belakang tokoh agama (kyai, ulama atau ustadz), tokoh sosial, aparat pemerintahan maupun para pemimpin informal lainnya yang selalu saja akan segera sigap membantu penyelesaian masalah begitu terjadi kesalahpahaman atau persoalan-persoalan lain yang terjadi di tengah masyarakat. Potensi inilah yang secara khusus harus kita syukuri, mengingat perselisihan pandangan atau perbedaan politik seperti apapun yang terjadi di masyarakat kita, akan segera selesai ketika para tokoh masyarakat sedera ikut serta membantu penyelesaian masalah yang terjadi.

Peran di Bidang Sosial Budaya

Karya sastra dan kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat ternyata kadangkala mampu membuat banyak orang terpengaruh, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pengaruh ini, baik sebatas visi dan pandangan hidup atau malah pada perilaku keseharian. Dengan begitu kesan yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah produk kesenian haruslah mampu terkontrol. Artinya, seni dan produk berkesian secara ideal seyogianya berada dalam koridor tatanan normatif yang mampu menjembatani kebebasan berekspresi dan etika yang berlaku di tengah masyarakat. Ini haruslah dilakukan, mengingat Indonesia adalah negara yang secara nyata menjadikan dasar-dasar kehidupan masyarakatnya berada di atas landasan moral dan spiritual yang baik. Jika tidak terjadi keseimbangan seperti itu, maka dikhawatirkan akan terjadi polemik berkepanjangan tanpa penyelesaian. Ini terjadi sebagaimana pada beberapa waktu yang lalu, yang dimungkinkan karena berbedanya cara pandang terhadap seni dan produk kesenian yang ada di tengah masyarakat.

Dunia seni dan produk kesenian pada dasarnya adalah produk budaya masyarakat. Kalau kita amati dalam perjalanannya di tengah kehidupan bangsa, kadangkala seni dan produk budaya bangsa ini pula yang mampu menjadikan bangsa kita dihormati dan dihargai oleh bangsa lain. Dengan begitu, seni adalah asset besar bangsa yang kalau bisa dikelola dengan baik serta tetap memegang etika yang baik akan justeru menaikkan derajat bangsa.

Dan sebagaimana kita telah ketahui bersama, di tengah masyarakat kita telah tumbuh beranekaragam kesenian dan budaya yang merupakan warisan dari para orang tua serta nenek moyang kita. Hal ini, tentu saja wujud kekayaan yang tak ternilai harganya bagi bangsa. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, kesenian dan budaya ini akan menjadi semakin bermanfaat besar ketika kita terus menggalai, mengembangkanserta memberikan inovasi-inovasi kreatif. Sehingga pada akhirnya usaha-usaha ini akan mejadikan masyarakat semakin menghargai kesenian dan budaya kita.

Peran di Bidang Mental Spiritual (Keagamaan)

Untuk meningkatkan kehidupan keberagamaan masyarakat, diperlukan sistem yang tepat, terpadu dan sistemik. Untuk membangun hal tersebut, tentu saja pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, diperlukan peran masyarakat yang lebih luas. Pendidikan agama yang selama ini berjalan tentu saja tidak akan memadai untuk sekedar memahamkan orang.

Dan memang, pendidikan agama bukanlah segala-galanya, tetapi ia lebih sebagai stimulan untuk mengembangkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Kita semua mengetahui bahwa dinamika pendidikan yang terjadi berjalan sangat cepat, sementara perbaikan sistem yang bisa dilakukan terbatas dan butuh waktu yang tidak sedikit. Dinamika ini pula kadangkala tidak bisa direspon sesegera mungkin secara cepat. Oleh karena itu, kerjasama mutlak diperlukan oleh semua pihak. Tidaklah cukup kalau hanya dilakukan kerja-kerja yang sifatnya parsial. Maka dibutuhkan upaya pendidikan agama secara terpadu untuk menutupi kebutuhan ini.

Pendidikan agama pada dasarnya diarahkan kepada tiga aspek, yaitu: pertama, penguatan aspek Ibadah, melalui ibadah-ibadah rutin harian, serta ibadah sunah. Kedua, pengayaan pemikiran dan wawasan keilmuan melalui kegiatan membaca, diskusi dan kajian yang berjalan secara rutin. Dan ketiga, peningkatan kemampuan teknis dan keterampilan hidup (life skills) baik untuk kepentingan dalam lingkup pribadi maupun dalam lingkup berorganisasi di tengah masyarakat. Ketiga hal tadi, akan lebih baik pula ketika di sana juga ditumbuhkan serta dilatih kedisiplinan dan keterampilan dalam konteks pembinaan mental kepemimpinan.

Dalam hal ini, fungsi kontrol pemerintah adalah memotivasi dan mengevaluasi aktifitas pendidikan agama yang dilakukan masyarakat. Pemerintah dalam batas yang memungkinkan, ikut memfasilitas program pendidikan tersebut, misalnya dengan menggelar berbagai kajian dan pelatihan peningkatan keberagamaan masyarakat.

Yang perlu dipahami bersama, diantara karakter penting sistem pendidikan yang ada adalah penguatan pada sisi pendidikan kepribadian atau disebut juga akhlak. Masyarakat juga diarahkan agar mampu untuk memahami dan menguasasi berbagai bidang keilmuan dan ketrampilan, berkonsekuensi pada tidak mungkinnya semua itu bisa dipenuhi oleh penyelenggara pendidikan agama. Maka diperlukanlah aktifitas yang terpadu dan terencana secara baik.

Peran di Bidang Keamanan, Ketertiban dan Keindahan

Orang barat seringkali mengatakan Indonesia is a violent country. Itulah kata-kata penyunting Freek Colombijn dan J. Thomas Lindblad ketika memberi pengantar sebuah buku yang berjudul Roots of Violence in Indonesia (menelusuri akar-akar kekerasan di Indonesia). Mereka dalam buku tersebut mengatakan bahwa geneologi kekerasan itu sendiri ternyata berakar cukup kuat di Indonesia. Terutama sejak jatuhnya rezim orde baru. Kekerasan menurut mereka seperti menjadi ritualitas masyarakat Indonesia yang diproduksi dan direproduksi kembali. Kekerasan bulan Mei, Situbondo, Sambas, Ketapang, Sampit, Maluku, dan seterusnya, cukup jelas menunjukkan bahwa Indonesia menurut mereka adalah violent country.

Menuju Peningkatan Peran Masyarakat

Diakui atau tidak, sebagian masyarakat dari hari ke hari ternyata semakin meningkat ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologinya. Namun begitu, masih ada pula masyarakat yang masih bergelut dengan kehidupan yang berada di lingkaran garis kemiskinan. Keanekaragaman seperti ini, kalau mampu di menej dengan baik akan mampu mempercepat proses pembangunan yang ada. Artinya kalangan masyarakat yang mampu, kalau bisa diajak dengan baik untuk bisa terlibat dengan pemerintah membantu peningkatan mereka yang berada di garis kemiskinan maka akan mempercepat proses pembangunan yang dilakuakan. Walaupun begitu, ada memang masyarakat yang cukup kritis terhadap proses pembangunan yang dilakukan pemerintah. Oleh karenanya, untuk memperkecil persepsi serta cara pandang yang berbeda terhadap pembangunan yang dilakukan, maka pemerintah pun secara ideal semakin mampu mendekatkan dirinya dengan masyarakat, sehingga nantinya akan menjadi satu kesatuan yang mampu sinergis bagi kemajuan pembangunan di masa yang akan datang. Untuk itu perlu kiranya dipikirkan, dikaji ulang serta ditingkatkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Perluasan Partisipasi Publik: Partisipasi ini bisa berupa layanan hotline telepon, sms, internet dan lain-lain yang semakin mempermudah masyarakat berkomunikasi dengan pemerintah. Mereka dengan sarana yang semakin mudah akan dengan mudah menyampaikan keluhan, masukan serta gagasan atau ide-ide yang akan memacu semakin cepatnya respon dan kemajuan di sebuah tempat. Dengan begitu secara keseluruhan, masyarakat merasa bahwa pemerintah ternyata amat dekat dengan kehidupan mereka.
  2. Pelibatan Publik dalam Agenda Pembangunan: Partisipasi publik dalam agenda pembangunan bisa saja secara teknis mengacu pada bagian pertama, namun secara mekanisme dapat pula dibuka ruang-ruang publik yang lebih luas yang bisa berupa public hearing, diskusi, seminar agenda pembangunan atau lewat berbagai acara atau media yang pada intinya mengajak masyarakat terlibat dalam rencana-rencana pembangunan yang akan dilakukan. Dari sana diharapkan tumbuh semangat memiliki dan rasa tanggungjawab dari masyaraakat terhadap sarana prasarana yang dibangun atau pada pembangunan secara keseluruhan.
  3. Penciptaan Transparansi Kebijakan Pembangunan: Transparansi perlu dilakukan oleh pemerintah di berbagai tingkatan. Ini diperlukan bagi tumbuhnya iklim saling menghargai dan menghormati serta saling membantu antara masyarakat dengan pemerintah. Di samping itu, kalau hal ini mampu dilakukan maka akuntabilitas pemerintah akan terwujud dengan baik.

Dengan partisipasi yang aktif dan transparansi kebijakan yang baik, masyarakat dapat menjadi mitra yang efektif dalam proses pembangunan. Dengan begitu, keberlanjutan pembangunan akan tercapai, dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat secara signifikan.

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer