Thomas Stamford Raffles adalah seorang pejabat kolonial Inggris yang dikenal sebagai pendiri kota Singapura. Meskipun namanya sering dikaitkan dengan peristiwa penting di Asia Tenggara, banyak orang masih belum memahami secara mendalam siapa sebenarnya Raffles dan bagaimana kontribusinya terhadap sejarah Indonesia. Dari awal karirnya sebagai pegawai East India Company hingga perannya dalam pemerintahan Jawa dan pembentukan Singapura, Raffles memiliki pengaruh besar terhadap dinamika politik, ekonomi, dan budaya di wilayah tersebut.
Selama masa kekuasaan Inggris atas Jawa antara 1811 hingga 1816, Raffles mengambil alih kepemimpinan sebagai gubernur jenderal. Ia tidak hanya memperkenalkan reformasi sistem pemerintahan, tetapi juga berupaya melestarikan warisan budaya lokal. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah penulisan buku “The History of Java” yang menjadi referensi penting tentang sejarah dan budaya pulau ini. Selain itu, ia juga melakukan riset ilmiah terhadap flora dan fauna, termasuk menemukan bunga raksasa Rafflesia Arnoldi yang diberi nama sesuai dengan namanya.
Namun, peran Raffles tidak hanya terbatas pada Jawa. Pada tahun 1819, ia berhasil membangun kota pelabuhan Singapura yang menjadi pusat perdagangan internasional. Meski awalnya dianggap sebagai tindakan yang melanggar kesepakatan antara Inggris dan Belanda, Singapura akhirnya menjadi salah satu kota paling berkembang di Asia Tenggara. Peran Raffles dalam sejarah Indonesia tidak hanya terbatas pada politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup aspek budaya dan ilmu pengetahuan.
Dengan segala kontribusi dan perubahan yang dilakukannya, Raffles meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi sejarah Indonesia dan dunia. Artikel ini akan membahas secara mendalam siapa sebenarnya Thomas Stamford Raffles serta peran pentingnya dalam sejarah Indonesia, baik dari sisi politik, ekonomi, maupun budaya.
Latar Belakang dan Awal Karier Thomas Stamford Raffles
Thomas Stamford Raffles lahir pada tanggal 5 Juli 1781 di kapal Ann yang sedang berlayar di lepas pantai Port Morant, Jamaika. Ia adalah putra dari seorang kapten kapal bernama Benjamin Raffles dan istri yang bernama Anne Raffles. Meskipun keluarganya tidak memiliki latar belakang kaya, Raffles tumbuh dalam lingkungan yang mendorong semangat belajar dan kerja keras. Pada usia 14 tahun, ia mulai bekerja sebagai clerk untuk East India Company (EIC) di London, sebuah perusahaan dagang yang saat itu menguasai perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Karir Raffles dimulai pada tahun 1805 ketika ia dikirim ke Pulau Prince of Wales (sekarang Malaka) sebagai sekretaris bawahan Philip Dundas, gubernur baru Penang. Di sana, ia bertemu dengan Thomas Otho Travers, seorang rekan yang akan bersamanya selama beberapa dekade. Pengalamannya di kawasan ini memberinya wawasan tentang kebijakan kolonial dan hubungan diplomatik antara Inggris dan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Pada tahun 1811, Raffles dipercaya oleh Lord Minto, gubernur umum India, untuk memimpin ekspedisi militer Inggris ke Jawa. Saat itu, Jawa sedang dikuasai oleh Belanda, tetapi karena perang Napoleon, Inggris berhasil menguasai wilayah tersebut. Raffles ditunjuk sebagai lieutenant-governor Jawa dan Daerah Seberang, menjalankan pemerintahan sementara selama periode Inggris berkuasa. Meski hanya bertahan selama lima tahun, kontribusi Raffles dalam pemerintahan dan pengelolaan Jawa sangat signifikan.
Peran Raffles dalam Pemerintahan Jawa dan Reformasi Sosial-Ekonomi
Saat memimpin Jawa, Raffles membuat sejumlah reformasi penting yang berdampak besar terhadap masyarakat setempat. Salah satu langkah utamanya adalah mengubah sistem pemerintahan dari feodal menjadi lebih modern, dengan membagi Jawa menjadi 16 karesidenan. Ini memudahkan pengawasan dan pengaturan wilayah. Ia juga mengganti sistem pajak hasil bumi (Contingenten) dengan sistem sewa tanah (Landrent), yang bertujuan untuk meningkatkan pemasukan keuangan negara sekaligus memberikan kepastian hukum kepada petani.
Raffles juga menghapus sistem penyerahan wajib (Verplichte Leverantie) yang telah diterapkan sejak masa VOC. Dengan sistem ini, petani harus menyerahkan hasil panen mereka kepada pemerintah. Setelah dihapus, petani diberi kebebasan untuk menjual hasil pertanian mereka sendiri, sehingga meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk-produk industri Inggris. Hal ini juga memberi motivasi kepada petani agar meningkatkan produksi pertanian.
Di bidang sosial budaya, Raffles berusaha melestarikan warisan budaya lokal. Ia menulis buku “The History of Java” yang menjadi referensi penting tentang sejarah dan budaya Jawa. Buku ini tidak hanya menggambarkan sejarah Jawa, tetapi juga menggambarkan kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada masa itu. Selain itu, Raffles juga melakukan riset ilmiah terhadap flora dan fauna, termasuk menemukan bunga raksasa Rafflesia Arnoldi yang diberi nama sesuai dengan namanya.
Pembentukan Singapura dan Peran Raffles dalam Sejarah Perdagangan Asia Tenggara
Setelah meninggalkan Jawa pada tahun 1816, Raffles kembali ke Inggris dan kemudian ditugaskan ke Bengkulu pada tahun 1818. Di sana, ia mengembangkan kebijakan yang mirip dengan yang diterapkan di Jawa, seperti menghapus perbudakan dan mengurangi aktivitas permainan taruhan. Namun, Raffles menyadari bahwa Bengkulu tidak cukup strategis untuk menjadi pusat perdagangan. Oleh karena itu, ia mulai mencari lokasi yang lebih strategis untuk memperluas pengaruh Inggris di kawasan Asia Tenggara.
Pada tahun 1819, Raffles mengusulkan kepada pemerintah Inggris untuk membeli daerah Singapura dari Sultan Johor sebagai pelabuhan. Singapura dinilai sebagai tempat yang sangat cocok untuk menjadi pusat perdagangan internasional. Keputusan ini diambil karena posisinya yang strategis di Selat Malaka, yang merupakan jalur perdagangan utama antara Eropa dan Asia. Raffles yakin bahwa Singapura akan menjadi pengganti Melaka yang telah diserahkan Inggris kepada Belanda secara resmi pada tahun 1818.
Proses pembentukan Singapura dimulai pada bulan Februari 1819 ketika Raffles menandatangani perjanjian dengan Sultan Husein Shah dan Tumenggung Abdul Rahman. Dalam perjanjian ini, Singapura diberikan kepada Inggris dengan imbalan uang tunai yang besar. Setelah itu, pembangunan Singapura dimulai, dan dalam waktu singkat, populasi kota ini berkembang pesat. Singapura menjadi pusat perdagangan yang sangat dinamis, menarik banyak pedagang dari berbagai belahan dunia.
Peran Raffles dalam sejarah perdagangan Asia Tenggara sangat penting. Dengan mendirikan Singapura, ia tidak hanya memperluas pengaruh Inggris di kawasan ini, tetapi juga membuka peluang perdagangan yang lebih luas. Singapura akhirnya menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Asia Tenggara, dan peran Raffles dalam pembentukannya tetap dikenang hingga hari ini.



